Semalam. spanyol menjadi juara euro 2008. ya..ya...ya.. yang ada bikin aku rada gimana gitu. bukannya seneng atau kesel karena spanyol yang menang. Tapi teriakan "gol" dari anak-anak sekosan yang membuat aku bangun terlalu dini. akhirnya, sampai sekarang baru tidur 4 jam. dua jam setelah isya, dua jam shubuh. beuuuh...
Gara-gara nggak bisa tidur, nih kepala akhirnya berkhayal yang nggak jelas. Malah bikin puisi yang aku snediri ga tau apa judulnya. tapi artinya yaa tau lah hehehehe..:D Nasib, sekosan ama penggemar bola..padahal pagi ini kudu ngerjain lagi "marketing game"..semoga aja nggak ketiduran didepan kompi hehehehe..
Terhitung sejak pertengahan 2005 aku di campakkan kejakarta oleh pemerintah daerah NAD.Ada rasa bangga, haru, kesal, marah, senang, dan berbagai rasa yang akhirnya menjadi gado-gado kehidupan. Paling tidak, akhirnya aku bisa mewujudkan mimpi mendiang ibuku yang menginginkan anaknya sekolah dengan uang bantuan. (miss you mom.)
Tidak terasa sudah hampir tiga tahun penuh aku menikmati dunia kosan. Mungkin, karena aku termasuk orang yang mendapat lucky factor ( that`s my friend called), aku bisa menjadi seperti sekarang. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku pindah tempat tinggal atau yang lebih dikenal dengan kosan. Mulai dari belakang kampus sampai ke cipondoh aku sudah pernah rasakan. Mulai dari gubuk reot sampai apartemen mewah dibilangan kuningan alhamdulillah juga sudah.
Ditipu orang itu sudah biasa, dikhianati oleh teman seperjuangan bukan lagi cerita baru. Dimanfaatkan semua kemampuan diri untuk kepentingan sepihak juga bukan lagi rahasia umum. Jakarta, itulah ibukota dengan heterogen budaya dan pola pikir ( ini kata Om Tian ). Anyway, indahnya dunia kosan ini sering kali membuat orang yang baik menjadi buruk, dan orang buruk menjadi semakin buruk. Ups…orang buruk ada juga lho yang jadi baik. Ehem..ada yang senyum-senyum tuh.
Banyak cerita dibalik nomadennya diriku sebagai anak kos. Misalnya perihal kepindahanku dari kawasan kalibata ke cipondoh Tanggerang selama 6 bulan. Waktu itu, aku masih seperti anak culun ( walaupun sekarang masih culun) dan belum banyak tahu tentang seluk beluk kotaJakarta.Aku sedang asyik-asyiknya menikmati dunia malam dengan teman-teman baruku. Nggak tahunya, “soulmate” sekamarku ngadu ke ayahnya yang secara kebetulan adalah teman ayahku. (guys, jangan terlalu dekat teman yang bapaknya adalah teman ayahmu. He..he..he.). al hasil ayahku tercintapun naik darah setelah makan gulai kambing dan hasil “duek pakat” di warung kopi dengan temannya itu. Hasilnya, akupun di damprat lewat handphone dan kudu pindah kerumah adik ibuku di cipondoh. Yang jaraknya sungguh sungguh jauh. Tapi apa dayaku, akupun pindah kesana. Sampai akhirnya diijinkan kembali lagi kejakarta.
Itu baru satu bagian dari berbagai alasan nomadenku. Padahal, jika ditarik garis lurus diantara semuanya, aku nomaden karena hanya untuk menyambung hidup. He..he..he..mencari kosan murah, nyaman, dan deket kampus adalah trik yang paling jitu untuk menghemat uang bulan yang pas-pasan dari pemda. Finally, sampai saat ini aku masih juga belum ada tempat tinggal yang tetap. Tapi, alhamdulillah aku sudah di “pungut” ama sepupu jauhku. Paling tidak sekarang sudah ada tempat bernaung sementara walaupun jaraknya setengah dari kalibata-cipondoh. Tapi paling tidak, kalau uang bulanan habis sudah ada tempat nebeng. He..he..he..yang penting jangan malu kalau jadi anak kos. Kere ya kere aja. Nggak usah jadi sok kaya padahal emang kere hehehe…
Kabar terakhir, sekitar pertengahan bulan juli atau agustus. Aku dan sepupuku harus pindah kosan lagi, alasannya sih, dia mau nyari tempat yang tenang untuk mengerjakan tugas akhirnya. Hmm..semoga aja ada tempat berlindung yang alhamdulillah. Kalau rusun lagi ya alhamdulillah, kalau tidak juga alhamdulillah. Yang penting masih tetap bisa nebeng. He..he..he..Jadi, hidup Nomaden..dan karena nomaden ini juga aku malas beli baju (halah..bilang aja nggak ada uang he..he..he.) jadi mudah untuk pindah sana pindah sini. Yang pentingkan bisa kuliah dan bisa makan..
*disela-sela boring dengerin ceramah dosen yang pancasilais banget..
Iseng nyari-nyari nama sendiri di google. habisnya sampai sekarang belum bisa pulang ke rusun karena nggak ada kunci dan terus bercokol dikampus tercinta yang bikin daku nggak tamat-tamat.
Ntah dari mana narciesku kumat dan akhirnya men-search nama sendiri google. dan muncullah salah satunya ini http://www.isekolah.org/puisi4/puisi_view.php?idx_puisi=1846 ini sebenarnya puisi pertama kali yang tercipta setelah tsunami dan saat itu iseng ngikutin sayembara puisi tingkat mahasiswa. walaupun nggak menang karena memang tau klo puisi ini tidak akan menang.,lha gimana mau menang, wong dibikin aja pas baca iklan sayembara terus langsung ngirim hehehehe..:D
tapi alhamdulillahnya, namaku akhirnya terpampang di google dan masih bisa dilihat lagi puisi jadulnya terus di compare deh ama puisi2 yang ditulis sekarang..lumayan juga perkembangan mundurnya hehehehehe =========================================================
Tsunami Tak Kenal Apapun
Di ujung sini... T`lah hilang disapu amukan ombak Di ujung satunya lagi Telah rata dengan tanah Tanpa apapun ada yang tersisa Hanya tangis dan air mata... Yang tersia Jasad mereka - mereka yang tak berdosa Yang bergelimpangan dimana-mana dan rumah mereka yang menjadi tumpukan sampah yang tak berarti Kapankah ini semua terkendali...? Aku lelah, melihat mereka menangis Aku tak sanggup melihat luka mereka Aku berharap... dalam tangis dan doa Semua ini pasti tersimpan hikmah yang berarti.
Hore...akhirnya ditelpon juga dan disuruh pulang...so..pulang dulu ya friends..:D
Siapa sangka bahwa sebuah petualangan tinggal dinegeri orang akan menjadi sebuah memoar yang indah saat ditulis kedalam sebuah buku. Buku Pelangi Di Persia yang dikarang oleh seorang penulis salah satu buku best seller doctor cilik tersebut bersama sang suami berhasil membuat saya terpesona dengan pengalaman-pengalaman menarik selama beliau di IRAN.
Dalam buku ini, seolah IRAN ditelanjangi bulat-bulat tanpa sedikitpun helai benangpun. Iran, Negara yang memiliki sejuta satu kisah sejak lima ribu tahun lalu berhasil digambarkan dengan cukup indah oleh Teh Dina didalam bukunya. Awalnya, saat saya membacanya, saya berpikir bahwa ini akan menjadi buku tergaring kedua setelah bukunya bang Arham Kendari (sorry bang..). tapi, penilaian saya berputar seratus delapan puluh derajat. Buku yang lebih suka saya sebut sebagaibuku “sejarah” ini ternyata semakin membuat kita masuk kedalam warna warni pelangi di Persia.
Buku ini, memang cukup besar untuk jenis buku sebayanya. Lebih tepatnya, buku ini hampir sama sebesar buku sejarah anak SMP. Tapi, walaupun sedikit repot untuk dijadikan “hand book” yang bisa dibawa dan dibaca dimana saja (ini kebiasaan saya jika membaca novel/buku lainnya). Dia berhasil mengukuhkan dirinya sebagai buku layak dikoleksi.
Featuring dengan sang suami (Otong Sulaeman) dalam menceritakan pertualangan di Iran adalah sebuah langka jitu dan sekali lagi, sangat menarik. Dari sini, kita bisa menikmati dua penuturan dengan gaya yang sangat jauh berbeda. Tentu saja karena citra rasa penulisan keduanya sangat jauh berbeda. Jika teh Dina menulis dengan penuh emotion, Kang Otong menulis dengan penalaran yang sederhana tapi mengena. Hal ini bisa dibedakan saat teh Dina menulis cerita mengenai kekesalannya akan sikap dan prilaku supir taksi. Disini, para pembaca akan terbawa dan sekaligus ikut merasakan kekesalan tersebut. Sedangkan kang otong, kita akan melihat bagaimana penalarannya saat dia bercerita mengenai supir taksi yang jari tangannya tidak sempurna. Menarik.
Disamping itu semua, kita akan benar-benar diajak mengenal iran lebih jauh, lebih dalam dan lebih mengena. Iran yang benar-benar berwarna warni. Agama, budaya, adapt, social, ekonomi, politik, sejarah, suku bangsa, wanita, pria, dan keeksotismenya dipaparkan dengan sederhana tapi indah dan tepat.
Jika ditanya, part manakah yang membuat saya tertarik dari buku ini, maka saya akan menjawab buku ini adalah sebuah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dari satu bab ke bab lainnya, buku ini tetap memberikan keindahan dan lukisan tersendiri yang berbeda-beda. Begitu besar kekaguman saya akan semua cerita dan foto yang termuat dalam buku ini sehingga sulit mengatakannya. Walaupun tidak terlepas dari kekurangannya disana sini.
Untuk lebih lanjut, silahkan baca dan selami sendiri keeksotisme iran Negeri para mullah tersebut. Oh iya, jika anda para pria yang berkeinginan untuk menikahi wanita Iran sungguh jauh diatas rata. Kecuali jika anda ingin mahar ngutang. He…he…he… asli, sebaiknya pikir lagi masak-masak jika memang ingin menikahi wanita Iran
Hari ini, seperti jumat pada umumnya dikampusku. Hari jumat, adalah membosankan karena harus belajar dari pagi sampai sore non-stop ( kecuali jumatan). Alhasil, aku seorang mahasiswa yang terbilang paling tuir dikelas mengambil posisi paling belakang. Apalagi jika bukan untuk menghindar dari ceceran pertanyaan dosen. Rada males jika selalu ditanya ini itu yang menyangkut produksi dan operasional manajemen. Walaupun itu adalah salah satu mata kuliah kesukaan. Tapi yang namanya kalau lagi malas mau dibilang apa? ( alesaaaaaaaaaaaaaan)
Saat duduk dibelakang, tiba-tiba temenku anak pekalongan masuk terlambat. Dengan kalemnya duduk disebelahku. Tanpa rasa bersalah sama sekali. Maklum, dosennya cuek bebek. Didepan kelas, sang dosen sedang asyik-asyiknya membahas proses Probability supply. (auah gelap kagak ngerti..). temenku yang chubby ini tiba-tiba tanya;
“eh yud, ini kampus bisnis apa sekolah impress sih?” aku tidak menanggapinya dengan serius. Karena lagaknya yang jarang serius dan suka nyeletuk sudah terkenal dikampusku. Aku diam dan terus mengotak atik laptop temanku yang lainnya.
“yud, beneran nih. Coba deh lo liat disudut atas kelas, dah mau ambruk.” Wajahnya menjadi lebih serius. Dan kali ini aku mulai sedikit yakin bahwa dia benar. Aku menuruti permintaannya. Tak pelak, ternyata benar. Bangunan kampus ini yang terbilang cukup mewah. Uang kuliahnya yang cukup mahal, tapi tak dinyana bahwa langit-langit kelasnya sudah mau ambruk. Belum lagi meja kelas yang satu persatu sudah mulai lekang. Entah dimakan usia atau tak pernah di rawat. Wallahu`alam.
Seketika aku termenung, teringat kembali kalau dulu aku adalah salah satu siswa SD impress didesaku. Sebenarnya tidak masuk dalam katagori impress yang memprihatinkan. Tapi, jika ditinjau dari segi bangunan, fasilitas belajar, dan para guru, semua orang pasti akan berpendapat sama. Mulai dari gurunya yang lebih senang menghitung uang hasil jualan kue dikantin dari pada masuk kelas untuk mengajar para siswanya sampai kakus yang sudah sangat tidak layak pakai. (lha, gimana mau make kalo pintunya selalu terkunci dengan gembok dan airnya tidak pernah ada).
Jika hujan tiba, dari sela-sela langit-langit kelasku pasti akan ada rinai hujan yang lupa tempat mendaratnya, atau jika terlalu deras. Maka triplek penutup lubang angin akan terhempas dan airpun mendarat sempurna dibuku catatanku. Selama enam tahun, berbagi cerita dan berbagi tingkah laku ada disana. Di SD impressku.
Tapi inikah gambar dunia pendidikan kita? Semahal-mahalnya kuliah masih juga tetap sama dengan kekurangan? Entahlah, mungkin tidak ada yang berubah tapi hanya berganti bentuk.
*sengaja di set everyone biar pak direktur baca dan nyadar diri. Jadi wajar kalau mahasiswa rada males bayar uang kuliah dan lebih seneng main kucing-kucingan ama si mbak finance. he he he..*
Aku munafik kepadaMU Duhai rabbi, malam aku hina. Bukan hanya malam ini ya Rabb, akan tetapi semenjak aku mengenal agamamu.
Aku menulis mengenai IlmuMU tapi aku tidak mengamalkannya. Aku menyeru kejalanMU, tapi aku sendiri hanya berdiam ditempat.
Aku berlagak alim dihadapan manusia, tapi aku adalah penipu ulung. Bagaimana tidak ya Rabb? Hitamnya kening ini hanya karena kulitku yang tipis bergesek disajadah kasarku. Padahal shalatku tak pernah tepat waktu. Aku shalat padaMU, tapi shalatku hanya karena malu dengan gelar yang kusandang sekarang. Orang bilang aku ini “ikhwan”. Orang yang paham agama dan ligat dalam berdakwah. Tapi Engkau tahu apa yang aku perbuat ya Rabb. Tak lebih hanya sebuah rekayasa.
Aku berbicara seolah ilmu agamaku luas, padahal aku hanya berbicara yang basi. Hanya dibumbui saja. Tak lebih. Sombongnya diriku ini ya Rabb…
Ya Rabb Aku telanjangi diriku dihadapanMU Aku katakana semuanya padaMU walaupun Kau sudah tau semuanya.
Aku menundukkan pandanganku bukan karenaMU, tapi karena aku mengejar akhwat. muslimahMU... Dihadapan mereka aku berlagak alim padahal aku bajingan ulung. Tak jarang hijab ku gadaikan. Tak jarang aku hanya berlagak manis dihadapan mereka padahal aku tak lebih dari orang yang tak pernah menjalankan syariatMU karena itu adalah kewajibanku.
Ya Rabb.. Aku akui bahwa aku bertobat dijalanMU. Aku akui kehinaanku. Tapi jalanku masih tersendat dengan masa laluku.
Rabb… Jauhkanlah muslimahMU dari orang-orang sepertiku. Mereka terlalu suci untuk dinodai. Dan jauhkan dari mujahid-mujahidMU dari perempuan yang berhijab tapi sesungguhnya mereka menipu dirinya sendiri. mujahidMU terlalu indah dijamah oleh wanita yang menipu dirinya sendiri
Aku akui, bahwa aku memang menjaga senyumku dari yang tak halal buatku. Tapi itu bukan karenaMU ya Rabb, melainkan karena aku tak mau jika muslimahMU menilaiku seorang yang buruk akhlaqnya. Padahal aku memang buruk akhlaqnya.
Ya Rabb.. Ku akui dosaku. Ku akui kekalahanku Aku tak mampu menipuMU, lagi, lagi dan lagi.. Tidak ya Rabb… Bagiku ini terlalu mahal dengan nikmatMU Ya Rabb.. Ku memohon ampunanMU Ku memohon jangan Kau cabut NIkmat Iman yang dulu Kau tanamkan diqalbuku.
* berharap secercah cahaya iman yang sayup-sayup memudar. Hilang.
Assalamu`alaikum apa kabar sobat? maaf yudi mulai hari ini tidak ol semudah yang sudah-sudah. sedikit terbatas yang memang disengajakan.
Detik terus berputar. Mimpi menjadi sarjana tinggal hitungan tahun. tidak terasa tinggal setahun lagi menjadi kenyataan. Sombong? Tidak, sama sekali tidak. hanya ingin mengatakan bahwa mimpi-mimpi itu akan segera menjadi kenyataan. Mimpi dari kecil untuk bisa menjadi seorang sarjana lulusan Jakarta. Amien..
mimpi sederhana seorang bocah tengik dari ujung banda. Yudi sengaja memilih keterbatasan internet untuk sementara waktu untuk mempersiapkan lagi bekal meraih kesederhanaan sang waktu. maklum kampus menuntut banyak hal. Semoga, silahturahmi kita tidak terputus.Amien
"Bermimpilah, Karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu" Arai (andrea hirata; edensor) "hai Gam, bek ta takoet ngen donya, tapi neutakoet lah ngen Umue yang hantom jeut pegeet meulumpoe keu NYATA" Kakek Aziz ( Kakek kandungku) [ wahai anak lakiku, janganlah kamu takut kepada dunia, tapi takutlah kepada umur yang tidak pernah membuat mimpimu menjadi nyata]
Selimut hati mengepak dalam buritan nasib Dalam lembaran biru garis hati di tempa Hilang perlahan; tertiup oleh buhul cinta Layaknya cerita senja, terhempas kesudut dermaga
Selimut hatiku bersedih Menyangsikan kekuatan tuhannya Berharap kasih dalam perjumpaan disudut kota Sayang, sungguh sayang dalam hampa gelisah
Berulang kali desahan yang sama terdengar Dari balik cermin retak beribu Dari balik temaran malam merimba dalam lantunan Bagimu, kisah ini seolah mimpi tak terbeli membiru
Dalam lembaran biru malam.. Kau bersenandung menghiasi malam Dengan bintang gemintang, kemudi dan layar bahtera Gejolak risau menutup air hati kepadaNYA
Selimut hatiku.. Tak bisakah kau pahamkan sejenak.. Dijauh sana ada sebuah mimpi indah Dengan bintang, dengan pelangi, dalam senja, diatas jembatan. Diatas pasir putih, dalam deburan ombak, dalam kisah malam
Selimut hatiku... Lembaran lembaran biru mengisahkan.. Bahwa Allah bersama mereka yang percaya Keteguhan Iman dalam islam menuntun kita kepadaNYA Diam, jangan! Menangis, usah! Hadapi saja. Percayakan padaNYA bahwa cerita kasih ini akan bahgia
berhubung bete aja sih.. Nambah lagi ah.. hmm entah kenapa keisenganku semakin menjadi-jadi..tiba-tiba inget si Ayah..yang demen banget ama nih lagu =================================================================
Mungkin engkau telah bosan.. aku sadar, bahwa aku terlalu sering bertanya mencari tahu mengenai berbagai hal didunia tentang cinta tentang agama tentang kehidupan tentang pelajaran kuliah mungkin engkau telah bosan aku tahu terlalu banyak bertanya hanya malu-maluin Tapi.. jujur... aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa.. aku bertanya untuk lebih beriman.. aku menggugat agar lebih bertaqwa.. ijinkanlah... tapi.. mungkin engkau telah bosan.. semoga Allah tidak pernah bosan menjawabku... kututup lembar ini.. dengan sejuta tanya....
Aku tak tahu harus bagaimana menemani malam panjang. Yang aku tahu, cintaku sederhana. Kepada malam, kepada bintang, kepada tanah, dan kepada rembulan kusampaikan bahwa cintaku sederhana.
Tak ada kisah heroik dalam lantunan sejarah kehidupanku. Aku belajar dari Bilal Bin Rabbah. Mengenai malam yang bersamanya ada purnama. Mengenai bintang yang bersamanya bermain mata.
Cintaku hanya cinta sederhana. Tak ada harta dunia didalamnya. Tidak ada rumah mewah yang gagah menjulang. Hanya sekuntum mawar dan setangkai seulanga. Mengisi setiap hati dari hari kehari hanya dengan lantunan nasyid. Murattal lembut menyapa dipagi hari. Secangkir teh hangat dengan madu asli hutan sumatra. Cintaku hanya sederhana.
Aku tak berani menjanjikan dunia padamu, tapi ijinkanlah aku berusaha membawa akhirat bersamamu. Bahtera ini berlayar dengan layar cinta. Anginnya adalah nafasmu. Cintaku hanya cinta sederhana. Tidak ada intan permata dan sehidang makanan mewah. Hanya sepotong roti dengan susu kambing. Ah..
Cintaku..cinta yang sederhana. Bukan cinta dari para pujangga. Bukan cinta dari Ar Rumi.Kudamba senyum dari bidadari malam. Menjelang kelam dalam gemerincing rinai hujan. Cintaku sederhana yang hanya bersemi diujung kota kecil. Diantara hamparan sawah, menebar bau harum benih padi.
Aku, bukanlah pecinta karena aku tak paham akannya. Yang kutahu, cintaku sederhana. Mengisi malam berdua dengan mushaf. Berdiri disisi bedeng kamar hanya untuk menangisi diri. Tersenyum aku dalam lamunan doa. Terperangah aku tatkala dianugrahi cinta. Tapi, cintaku sederhana. Akankah aku ada...
Hampir setiap orang tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah mahluk sosial, yang dalam setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan. Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam. Dari masalah sepele hingga masalah besar, dapat menjadi pemicunya. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocokan, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari Rabb-Nya. Na'udzubillaahi mindzaalik. Bagaimana memenej rasa sakit hati, agar tidak membuahkan dosa dan azab-Nya bagi kita sendiri? Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kiat-kiat tersendiri yang dapat menjadi penawar, bila diamalkan. Apa sajakah itu?
Muhasabah (Koreksi Diri) Sebelum kita menyalahkan orang lain, seharusnyalah kita melihat diri kita sendiri. Bisa jadi kita merasa tersakiti oleh saudara kita, padahal ia tak bermaksud menyakiti. Cobalah bertanya pada diri sendiri, mengapa saudara kita sampai bersikap demikian. Jangan-jangan kita sendiri yang telah membuat kesalahan.
Menjauhkan diri dari sifat iri, dengki dan ambisi Iri, dengki dan ambisi adalah beberapa celah yang menjadi pintu bagi syetan untuk memasuki hati manusia. Ambisi yang berlebihan, dapat membuat seseorang buta dan tuli. Bila tidak dilandasi iman, seorang yang ambisius cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ambisinya. Demikian sifat iri dan dengki. Sifat ini berasal dari kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat materi, kehormatan dan pujian. Manusia tidak akan tenang bila dalam hatinya ada sifat ini. Manusia juga tak akan pernah bisa bersyukur, karena selalu merasa kurang. Ia selalu memandang ke atas, dan seolah tidak rela melihat orang lain memiliki kelebihan atas dirinya. Maka hapuslah terlebih dahulu sikap cinta dunia, sehingga dengki pun sirna. Rasulullah bersabda, "Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang. Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian memenangkannya atas kerakusannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya. " (HR. Bukhari)
Menjauhkan diri dari sifat amarah dan keras hati Bila marah telah timbul dalam hati manusia, maka kadang manusia bertindak tanpa pertimbangan akal. Jika akal sudah melemah, tinggallah hawa nafsu. Dan syetan pun semakin leluasa melancarkan serangannya, lalu mempermainkan diri manusia. Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyebutkan bahwa Iblis pernah berkata, "Jika manusia keras hati, maka kami bisa membaliknya sebagai anak kecil yang membalik bola."
Menumbuhkan sifat pemaaf "Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Demikian firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf: 199. Allah sang Khaliq saja Maha Pemaaf terhadap hamban-Nya. Tak peduli sebesar gunung atau sedalam lautan kesalahan seorang hamba, jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan pintu maaf selebar-lebarnya. Kita sebagai manusia yang lemah, tidak sepantasnya berlaku sombong, dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, sebelum ia meminta maaf. Insya Allah, dengan begitu, hati akan lebih terasa lapang. Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dimana engkau berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik." (HR. Hakim dan At-Tirmidzi)
Husnudhan (berprasangka baik) Allah berfirman, "Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan jangalah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat : 12) Adakalanya seorang muslim berburuk sangka terhadap seorang muslim lainnya sehingga ia melecehkan saudaranya. Ia mengatakan yang macam-macam tentang saudaranya, dan menilai dirinya lebih baik. Tentu, itu adalah hal yang tidak dibenarkan. Akan tetapi, hendaknya setiap muslim harus mawas diri terhadap titik-titik rawan yang sering memancing tuduhan, agar orang lain tidak berburuk sangka kepadanya.
Menumbuhkan Sikap Ikhlas Ikhlas adalah kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi cukup berat untuk dilakukan. Orang yang ikhlas dapat meniatkan segala tindakannya kepada Allah. Ia tidak memiliki pamrih yang bersifat duniawi. Apabila Allah mengujinya dengan kenikmatan, maka ia bersyukur. Bila Allah mengujinya dengan kesusahannya pun ia bersabar. Ia selalu percaya bahwa Allah akan senantiasa memberikan yang terbaik bagi hambanya. Orang yang ikhlas akan lebih mudah memenej kalbunya untuk selalu menyerahkan segalanya hanya kepada Allah. Hanya kepada-Nyalah ia mengantungkan harapan. Nah pembaca, bila anda sedang dilanda sakit hati, cobalah amalkan kiat diatas. Insya Allah, beban hati akan berkurang. Dada anda pun terasa lapang. Insya Allah.
Maraji' : Minhajul Qashidin. Ibnu Qudamah Minhajul Muslim. Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
Sebel banget nonton nich film. scenenya tdiak bagus. malah nambah menghina islam lagi. Walaupun tidak secara langsung. tapi di film ini memperlihatkan siapakah yang sebenarnya lebih kejam. Amerika atau rakyat Irak atau Teroris.
Sebuah cerita yang dikemas berdasarkan keadaan di Irak ditahun 2006 lalu. Menampilkan sebuah pembunuhan yang nyata. wallahu`alam bener apa tidak. semuanya kembali kepada anda yang menilai. yang jelas. setelah nonton nich film pengen banget ngebalas dendam anak-anak yang dibunuh seenak kepala marinir amerika. ini adalah reviewnya. dari http://www.channel4.com/film/reviews/film.jsp?id=163838 ===========================================================
Documentarian Nick Broomfield's third fictional feature is a forensic cinema verité-style account of a real-life massacre in Iraq, when US marines gunned down 24 Iraqi civilians in cold blood
One of a current crop of films taking on the issues surrounding the US-led occupation of Iraq, Nick Broomfield's largely successful re-enactment of a massacre of Iraqi civilians by US soldiers explores the events from multiple perspectives. Shot in the naturalistic style seen in his Ghosts, and Paul Greengrass's Bloody Sunday and United 93, the film brings the audience close to life on the ground in this troubled country.
The three strands of the story follow three groups of individuals caught up in the tragic events - a pair of insurgents who plant a roadside bomb, the US Marines who seek revenge after the bomb kills one of their number, and the innocents who ultimately pay the price.
The film shares close parallels with Brian De Palma's Redacted, which investigates the real-life rape and murder of an Iraqi girl and the massacre of her family. De Palma's outrage prompted him to paint a starker, more simplistic piece of agit-prop, whereas Broomfield is more subtle in his presentation. He is concerned with showing the nuances and ambiguities of ideology and occupation in a number of illustrative scenes - an Iraqi shopkeeper jokes with US soldiers about the DVDs he supplies them with only to then collect a bomb that kills one of them; the bomber's collaborator condemns the fundamentalist killing of an English teacher as the work of 'idiots' and is then later rebuked for drinking alcohol by the men who provide the bomb.
And although Broomfield does not shy away from the monstrous brutality of the US troops, he endeavours to show the way in which both ordinary Iraqis and the Marines are pawns in an ideological war that is played out over their heads. Their experiences and reactions are shaped by this sense of powerlessness. The US soldiers are dehumanised by fear and by the hatred of the Iraqis towards them; the Iraqi civilians are brutalised by their American occupiers and manipulated by the insurgents.
Sedari tadi stress, bingung juga mau ngapain. Baca buku, cuacanya rada kagak mendukung. malah mendukung untuk tidur, alhasil dari pada bete mending baca lagi deh buku kocak kacau itu lagi deh.
Hmm berbagi dengan semuanya yang ada nggak ada salahnya kan?? siapa tahu aja ada yang pernah mengalami hehehehe . =====================================================================
kriteria Selanjutnya!
Nunmajenun ditanya oleh sang Murabbi tentang krtiteria nikah seorang akhwat yang diinginkannya.
Setelah beberapa-beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab dengan malu-malu, "yang pertama ustad, Dia harus seorang yang cukup cantik." "Astaghfirullah akhi, bukankah Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakan agamanya dulu?" " Yang itu bukan masalah ustad." Jawab akhi nun dengan entengnya. "bukan masalah gimana akhi, ada hadistnya lho.." "Khan yang namanya akhwat itu pasti berjilbab gede, berarti semuany kita anggap sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekaang tinggal kriteria selanjutnya yaitu yang cantik" "antum bisa saja cari alasan?"
================================================================== adakah yang pernah mengalami??? ya.... Ingat..Ikhwan Juga manusia lho
Bait-bait Nasyid Izzatul islam mempunyai ciri khas perjuangan dan semangat yang menyala-nyala. Tapi bukan Nunmajenun namanya kalau tidak punya kreasi lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu saja tujuannya untuk memprovokasi satu sama lain,
Diambil dari album “kembali”. Bedakan asli dan plesetannya.
Asli
“berkobar tinggi panaskan bumi
Membakar lading dan rumah kami
Darah syuhada mengalir suburkan negri
Tiada kata lagi…kami harus kembali
Plesetan dari nunmajenun
Berkobar tinggi panaskan hati
Datang tawaran dari murobby
Foto-foto akhwat ada dihadapan kami
Tiada kata lagi…aku pilih yang ini.
&&&&
Ta`aruf tak tahu
Menurut sumber, ini adalah kejadian nyata.
Kawan Nunmajenun yang kuliah disemester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh diennya. Sebagaimana biasa, diapun menghubungi ustadnya dan memulai proses ta`aruf, dipertemukan dengan calonnya.
Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, dia datang tepa waktu disebuah tempat yang dijanjikan ustad.
Taaruf pun dimulia, sang akhi duduk disebelah murabbi, sementara agak jauh didepannya sang akhwat ditemani murabbinya dengan posisi duduk yang agak menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan.
Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murabbi berbisik pelan pada mad`unya yang malu-malu ini.
“gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum?”
“sudah ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu kan?”
Murabbinya kaget wajahnya berubah agak kemerahan
“Eh..gimana antum! Yang itu istri saya!”
*Subhanallah ini buku bikin serius seorang yudi randa menghilang dan akhirnya tidak bisa tidur malah ngakak semalam suntuk..astaqfirullah..hehehehe .; akhirnya, karena susah tidur, ya mencoba iseng deh mosting malam-malam
Malam telah larut.. sesekali suara burung hantu sayup terdengar aku masih disini.. dalam sepinya malam mengikis diri..
ah, entahlah.. semangatku masih begitu besar untuk peluh aku bukan pengembara cinta tapi aku adalah ksatria hitam yang tak mau diam dengan nasib
malam semakin larut.. aku masih duduk sebagai ogokan patung tak bernyawa.. ingin ku sesali semua yang tlah terjadi.. apa gunanya?
"hisablah dirimu sebelum allah menghisabmu" umar berkata demikian dari bisikan kalbu.. aku... masih disini bermuram durja.. kisahku akan terkenang seiring malam menjelang.. ataukah menjadi basi dan masuk tong sampah...
*tengah malam gini emang enaknya bersendu ria..apalagi kalo nggak bisa tidur.. kangen juga bikin puisi lagi..dah lama nggak pernah muat puisi lagi..hm.,,,ada apakah gerangan..apakah ini artinya hatiku baik2 saja?? heheheheehhe
email dari adikku yang jauh di ausie..:) sudah lama tak pernah dibaca2 lagi..ternyata maknanya cukup dalam bagi kita semua. semoga berguna. THX ya dek..:) ===========================================================
Kisah ini sangat penting untuk memberikan pelajaran pelajaran berharga tentang makna keikhlasan sekaligus juga tentang istiqomah dan iltizam seorang hamba ketika dia memilih untuk menjadikan Allah Subhanahu WaTa’ala sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan ke-tawakal-an sang hamba. Tawakal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah Subhanahu WaTa’ala menyebabkan bukan saja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah Subhanahu WaTa’ala. Begitu mulianya kisah ini sehingga Allah Subhanahu WaTa’ala berkehendak mengabadikannya dalam Al-Quran di surat Al-Buruj (Gugusan Bintang) dalam juz-amma, dan kemudian diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi WaSallam dalam hadits beliau seperti berikut ;
Shuhaib bin Sinaan Arrmmi radhiallahu’anh. mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi WaSallam. bersabda:
Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: “Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir”. Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta. Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.
Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: “Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir”, lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa “Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini”. Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang-orang gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.
Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendeta), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : “Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku”. Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.
Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: “sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka”.
Jawab pemuda itu: “Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mau beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu”.
Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah Subhanahu WaTa’ala. Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja “Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu” Jawabnya “Rabbi (Tuhanku)”. Raja bertanya: “Aku?”. Raja bertanya demikian karena merasa dirinya sebagai Tuhan. Jawabnya “Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu yaitu Allah”. Ditanya oleh Raja “Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?” Jawabnya “Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu adalah Allah”.
Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.
Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata “Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit”
Jawab pemuda itu “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla”. Raja itu pun bertanya “Adakah aku?”, “Tidak” jawab permuda itu. maka tanya raja itu “Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?” Jawab pemuda “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah”. Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mau beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.
Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama tauhid), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya dibawa ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa “Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)”. Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga para pengawal berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: “Manakah orang-orang yang membawamu?”. Jawabnya: “Allah yang menyelesaikan urusan mereka”.
Lalu pemuda itu ditangkap lagi dan kali ini dibawa ke laut dengan naik perahu, setelah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: “Allahumma ikfinihim bimaa syi’ta”, maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja “Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?” Jawabnya: “Allah yang menyelesaikan mereka”.
Kemudian pemuda itu berkata kepada raja “Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku” Raja bertanya: “Apakah perintahmu?” Jawab pemuda: “Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku”. Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: “Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)”. Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.
Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggendong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menuruti mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: “Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang kebenaran.”. Akhirnya mereka berdua terjun kedalam parit api yang menyala dan membakar.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa’i)
Berkata Ibnu Abbas kisah ini terjadi 70 tahun sebelum Nabi Shalallahu’Alaihi waSallam.
Semenjak awal sekali Al-Qur`an telah menjelaskan bahwa Tuhan tak berharap dan tak ingin manusia menjadi malaikat; dengan segenap kekurangan, kompleksitas, dan kontradiksinya manusia mempunyai kemampuan untuk menjadi lebih daripada malaikat, dan disini akal manusia memainkan peran kunci. Al quran juga menyatakan bahwa iman akan ambruk justru ketika akal diabaikan atau dipakai secara tidak tepat.
Kalimat-kalimat Al-Qur`an yang rasional dan kerap kali bernada mendidik merupakan salah satu cirinya yang paling menonjol. Salah satu tema pokoknya adalah bahwa orang-orang mengingkari atau mendustakan ayat-ayat Allah dan merusak agama karena mereka tidak menggunakan akal. “Mereka tidak mengerti” dan “mereka benar-benar kaum yang tidak mau menggunakan akal”.
Menurut Al-Qur`an, akal dan iman adalah satu kubu, sebagai mana logika dan kepercayaan yang salah, dan kitab ini menjelaskan perbedaan nyata di antara keduanya : ”Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dan yang salah”. Orang-orang yang paling beruntung menurut Al Qur`an adalah ”mereka yang berakal”, ”orang-orang yang mendalam ilmunya”, ”mereka yang berpikir”, dan ”mereka yang mengakui bukti-bukti yang terang”.
Dizaman modern, penekanan Al-Qur`an bahwa akal penting sekali bagi agama adalah sebuah konsep yang radikal. Konfilk antara akal dan iman hampir telah menjadi sebuah aksioma dalam ranah pemikiran modern. Secara silogistik tak ”terbukti” bahwa kepercayaan kepada tuhan selalu mengarah pada sebuah kontradiksi logika. Lebih tepatnya, konflik ini merupakan persepsi yang lahir dari pengalaman historis dan pribadi. Disatu pihak, kita mempunyai sejarah yang panjang tentang pembunuhan para filosof dan ilmuwan oleh pemegang otoritas keagamaan.
Dipihak lain, kita menyaksikan kaum rasionalis yang frustasi karena tak mampu menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan teologis. Oleh karena itu, lebih pas bila dikatakan bahwa akal dan iman sering kali digunakan secara bertentangan, bukannya pada dasarnya berselisih. Terlepas dari bagaimana cara melakukannya, sekarang ini hanya ada segelintir tokoh dalam tradisi-tradisi monoteistik yang coba memadukan iman dan akal. Juga perlu dikemukan bahwa sebagian besar sarjana agama modern, luar biasa berhati-hati dalam menyikapi pendekatan rasional terhadap islam. Mereka tampaknya bersandar jauh lebih kuat pada hadis dibandingkan pada akal, tetapi tidak selalu demikian, terutama pada beberapa abad pertama zaman islam. Karena penekanan al Qur`an yang besar kepada akal dalam mencari iman cukuplah besar.
*disadur dari buku "Aku beriman maka aku bertanya karangan Jeffrey Lang, Volume 1